Sukabumi memiliki potensi besar dalam mencetak atlet-atlet berbakat, namun tantangan klasik yang sering dihadapi adalah keberlanjutan finansial organisasi dan kesejahteraan para atlet pasca-pensiun. Menanggapi kegelisahan ini, Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Sukabumi mengambil langkah berani yang mengubah paradigma organisasi olahraga konvensional. Mereka membuktikan bahwa kegiatan organisasi haruslah Bukan Sekadar Renang, melainkan sebuah ekosistem yang mampu menopang dirinya sendiri secara ekonomi sekaligus memberikan dampak positif bagi komunitas di sekitarnya.
Langkah transformatif ini dimulai ketika para pengurus menyadari bahwa ketergantungan pada dana bantuan pemerintah atau iuran anggota tidak akan cukup untuk membiayai inovasi jangka panjang. Oleh karena itu, PRSI wilayah Sukabumi memutuskan untuk merambah sektor produktif dengan mendirikan beberapa unit usaha mandiri. Unit usaha ini mencakup pengelolaan kafetaria sehat di area kolam renang, toko perlengkapan olahraga dengan harga terjangkau, hingga jasa konsultasi manajemen fasilitas air. Keuntungan dari bisnis ini tidak hanya masuk ke kas organisasi, tetapi diputar kembali untuk membiayai beasiswa bagi atlet dari keluarga kurang mampu.
Inti dari gerakan ini adalah keinginan kuat untuk Bangun Bisnis yang memiliki fondasi yang kokoh. Namun, berbeda dengan perusahaan swasta pada umumnya, orientasi utama dari unit usaha ini adalah pemberdayaan. Karyawan yang direkrut adalah para mantan atlet atau orang tua atlet yang membutuhkan pekerjaan tambahan. Dengan demikian, PRSI Sukabumi menciptakan lapangan kerja lokal yang secara langsung membantu stabilitas ekonomi anggotanya. Kemandirian finansial ini memungkinkan organisasi untuk menjalankan program-program latihan dengan fasilitas yang lebih modern dan terawat tanpa harus menunggu anggaran turun.
Filosofi utama yang dipegang teguh oleh organisasi ini adalah menciptakan usaha yang Berjiwa Sosial. Setiap transaksi yang terjadi di unit usaha PRSI Sukabumi mengandung unsur donasi. Misalnya, sebagian keuntungan dari penjualan kacamata renang dialokasikan untuk perbaikan sanitasi di sekolah-sekolah pelosok Sukabumi. Pendekatan “social entrepreneurship” ini membuat masyarakat luas lebih antusias untuk mendukung bisnis tersebut, karena mereka tahu bahwa setiap rupiah yang mereka keluarkan akan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kebaikan yang nyata.
