Salah satu mitos yang paling umum dalam dunia olahraga air adalah anggapan bahwa perenang tidak mengalami dehidrasi karena tubuh mereka selalu bersentuhan dengan air. Banyak orang berasumsi bahwa rasa sejuk dari air kolam atau laut secara otomatis menjaga suhu tubuh dan kelembapan internal. Namun, kenyataannya sangat berbeda secara fisiologis. Menjaga Hidrasi Tubuh adalah aspek yang sama pentingnya bagi perenang seperti halnya bagi pelari atau pemain basket. Ketidaksadaran akan kebutuhan cairan ini sering kali menjadi penyebab menurunnya performa dan munculnya masalah kesehatan yang tidak terduga saat sedang berlatih.
Secara biologis, saat kita melakukan aktivitas fisik yang intens di dalam air, suhu inti tubuh tetap meningkat. Sebagai mekanisme pendinginan alami, tubuh akan tetap memproduksi keringat untuk melepaskan panas tersebut. Masalahnya, karena tubuh perenang sudah dalam keadaan basah, keringat yang keluar tidak terasa dan langsung bercampur dengan air kolam. Hal ini menciptakan persepsi palsu bahwa tubuh tidak kehilangan cairan. Padahal, seorang perenang tingkat menengah hingga atlet bisa kehilangan cairan dalam jumlah yang signifikan melalui keringat selama sesi latihan satu jam. Inilah alasan utama mengapa perenang tetap butuh minum meskipun mereka berada di dalam lingkungan yang cair.
Dampak dari kurangnya asupan cairan pada perenang sangat memengaruhi kekentalan darah. Saat tubuh kekurangan air, volume plasma darah menurun, yang membuat jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ke otot-otot yang sedang bekerja. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan denyut jantung dan mempercepat timbulnya kelelahan. Selain itu, dehidrasi ringan dapat mengganggu keseimbangan elektrolit di dalam sel otot, yang merupakan pemicu utama terjadinya kram mendadak. Jika Anda sering merasa pening atau sangat lelah setelah keluar dari kolam, itu bisa jadi merupakan sinyal bahwa tubuh Anda sedang mengalami dehidrasi tingkat lanjut.
Lingkungan kolam renang itu sendiri juga memberikan kontribusi terhadap hilangnya cairan tubuh. Air kolam yang mengandung klorin dan bahan kimia lainnya dapat memiliki efek osmotik pada kulit, yang dalam jangka panjang bisa menarik kelembapan dari jaringan tubuh. Selain itu, jika perenang berada di dalam air yang bersuhu hangat (seperti kolam terapi atau kolam dengan pemanas), laju keringat akan meningkat dua kali lipat lebih cepat. Perenang juga sering kali mengalami kehilangan cairan melalui pernapasan. Udara di permukaan kolam sering kali memiliki kelembapan tinggi, namun aktivitas pernapasan yang cepat dan ritmis selama berenang membuang uap air dari paru-paru secara terus-menerus.
