Sukabumi, dengan kekayaan alam pegunungan dan aliran sungai yang melimpah, kini tengah menghadapi tantangan lingkungan yang cukup serius, terutama terkait pengelolaan limbah plastik di area perairan. Namun, di tangan para atlet muda yang tergabung dalam PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia) cabang Sukabumi, masalah lingkungan ini justru dipandang sebagai peluang emas untuk berinovasi. Melalui semangat kewirausahaan sosial, mereka memulai sebuah gerakan yang membuktikan bahwa kepedulian terhadap ekosistem air bisa berjalan beriringan dengan kemandirian ekonomi. Konsep ubah sampah jadi cuan kini bukan sekadar slogan, melainkan model bisnis nyata yang dijalankan oleh para perenang di waktu senggang mereka.
Inisiatif ini bermula dari keprihatinan para atlet saat melakukan sesi latihan di sungai atau melihat kondisi selokan di sekitar fasilitas kolam renang yang kerap tersumbat limbah anorganik. Sebagai individu yang sangat bergantung pada kualitas air yang bersih, para pemuda ini merasa memiliki tanggung jawab lebih untuk bertindak. Mereka mulai mengumpulkan botol plastik, kemasan deterjen, hingga sisa-sisa ban dalam motor yang hanyut, lalu membawanya ke bengkel kreatif yang mereka bangun secara swadaya. Di sinilah proses inovasi dimulai; sampah yang tadinya tidak bernilai diubah melalui teknik upcycling menjadi barang-barang kebutuhan olahraga yang fungsional dan bernilai jual tinggi.
Salah satu produk unggulan yang dihasilkan oleh para atlet PRSI Sukabumi adalah tas peralatan renang anti-air yang dibuat dari anyaman limbah plastik kemasan. Selain kuat dan tahan lama, tas ini memiliki desain unik yang mencerminkan karakter lokal Sukabumi. Tidak berhenti di situ, mereka juga mengolah sampah plastik menjadi bahan dasar pembuatan pelampung atau alat bantu latihan kaki (pull buoy) sederhana namun efektif. Keberhasilan mengubah limbah menjadi produk siap pakai ini segera menarik perhatian pasar lokal, mulai dari sesama atlet hingga masyarakat umum yang ingin mendukung gerakan ramah lingkungan.
Pemasaran produk-produk ini dilakukan secara cerdas melalui platform digital dan pameran UMKM di Sukabumi. Para atlet menggunakan identitas mereka sebagai pejuang lingkungan untuk membangun kepercayaan konsumen. Dengan narasi yang kuat mengenai penyelamatan sungai dan laut, produk mereka mampu bersaing di pasar meskipun menggunakan bahan daur ulang. Penghasilan yang didapat atau yang mereka sebut sebagai cuan tersebut kemudian dialokasikan untuk dua hal utama: pendanaan operasional latihan bagi atlet yang kurang mampu dan biaya kegiatan aksi bersih-bersih sungai secara berkala. Hal ini menciptakan sebuah ekosistem ekonomi sirkular yang sehat dan berkelanjutan.
